MAKALAH
“UNSUR PERIODE KETIGA”
Kelompok 6
Kelas XII IPA
5
Disusun Oleh :
MUSAIDATUL MAINAH
FARADILLA
NUR AULIA
AINUN JARIA
GILANG RAMADHAN
SULKIFLI K HAMIRI
KATA PENGANTAR
Puji
dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat
dan hidayah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan penyusunan makalah kimia
ini dengan judul “Unsur Periode Ketiga”. Makalah ini, disusun guna memenuhi
tugas Kimia.
Dengan
penyusunan makalah ini
diharapkan agar teman – teman dapat lebih
meningkatkan pengetahuan tentang unsur – unsur kimia khususnya unsur periode
ketiga, dan pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan perolehan hasil
belajar.
Penyusun
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penyusun
mengharapkan kritik dan saran untuk meningkatkan kualitas makalah ini.
Ampana,
3 November 2018
Penyusun
|
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.....................................................................................................
i
DAFTAR ISI .................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN..............................................................................................
1
A.
Latar Belakang........................................................................................................
1
B.
Rumusan Masalah...................................................................................................
1
C.
Tujuan......................................................................................................................
1
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................... 2
A.
Macam – Macam Unsur Perioda Ke-Tiga.............................................................
2
B.
Tren
Periodik...........................................................................................................
8
C.
Sifat Fisik dan Kimia
Unsur Periode Ketiga ........................................................ 9
1.
Sifat Fisik Unsur Periode
Ke Tiga................................................................
9
2.
Sifat Kimia Unsur Periode Ke Tiga ............................................................. 10
D.
Pengujian Unsur- Unsur Periode Ke Tiga ........................................................... 12
E.
Proses
Pembuatan Unsur Periode Ke Tiga...........................................................
14
F.
Aplikasi dari Unsur Periode
Ketiga Dalam Kehidupan Sehari-hari..................
15
BAB III PENUTUP ....................................................................................................... 18
A.
Kesimpulan...............................................................................................................
20
B.
Saran.........................................................................................................................
20
DAFTAR
PUSTAKA......................................................................................................
21
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dialam
banyak terkandunng berbagai macam unsur, salah satunya Unsur Periode Ke Tiga
yang terdiri dari logam (Natrium, Magnesium, dan Aluminium), Metaloin
(Silikon), dan nonlogam (Fosforus, Sulfur, Klorin, dan Argon). Unsur-unsur pada
golongan sama, baik logam maupun nonlogam memiliki kemiripan meskipun dengan
kadar sifat yang berbeda.
Kemiripan
sifat tersebut disebabkan adanya kesamaan jumlah elektron valensi yang dimiliki
oleh unsur-unsur tersebut, sedangkan perbedaan kadar sifat disebabkan oleh
perbedaan jari-jari atom yang mengimbas pada sifat-sifat atomik lainnya .
Lain
halnya dengan unsur-unsur yang terletak pada periode sama dan memiliki jumlah
elektron berbeda. Unsur - unsur ini memperlihatkan perubahan sifat secara
beraturan
B.
Rumusan Masalah
1. Apa saja unsur-unsur
periode yang ada di alam?
2. Jelaskan sifat fisik dan kimia unsur periode ketiga?
3. Bagaimana cara menguji
unsur-unsur periode ketiga?
4. Apa saja manfaat dari
unsur periode ketiga?
C.
Tujuan
1. Untuk mengetahui apa
saja unsur periode ke tiga di alam.
2. Untuk mengetahui sifat,
kegunaan dan cara pembuatan.
3. Agar siswa lebih memahami
tentang unsur periode ketiga.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Macam – Macam Unsur Perioda Ke-Tiga
Unsur
periode ketiga dalam sistem periode unsur terdiri dari delapan unsur yaitu
Natrium (Na), Magnesium (Mg), Aluminium (Al), Silikon (Si), Fosfor (P), Sulfur (S),
Klorin (Cl) dan Argon (Ar). Unsur tersebut terletak dalam golongan yang
berlainan, berikut tabel mengenai letak unsur periode 3;
Na
|
Mg
|
Al
|
Si
|
P
|
S
|
Cl
|
Ar
|
Logam
|
Metaloid
|
Nonlogam
|
Gas mulia
|
||||
IA,IIA,IIIA
|
IVA
|
VA,VIA,VIIA
|
VIIIA
|
||||
Gambar unsur periode 3.
1.
Natrium
Natrium adalah
suatu unsur kimia dalam tabel periodik
yang memiliki lambang Na dan nomor atom 11.
Na adalah sebuah logam lunak berwarna putih keperakan dan anggota logam alkali;
satu-satunya isotop
stabilnya adalah 23Na. Merupakan unsur melimpah yang terdapat dalam
sejumlah mineral seperti feldspar, sodalit
dan garam batu.
Banyak garam natrium sangat mudah larut dalam air dan oleh karenanya terdapat
dalam jumlah signifikan dalam badan air bumi. Kelimpahan terbesar dalam laut
sebagai natrium klorida.
Banyak senyawa natrium yang berguna, seperti natrium
hidroksida (soda api) untuk pembuatan
sabun,
dan natrium klorida sebagai pencair es dan nutrisi.
Logam
bebasnya, natrium elementer, tidak terdapat di alam tetapi harus dibuat dari
senyawanya. Unsur natrium pertama kali diisolasi oleh Humphry Davy
pada tahun 1807 melalui elektrolisisnatrium
hidroksida. Ion yang sama juga merupakan
komponen banyak mineral, seperti natrium nitrat.
2.
Magnesium
Magnesium
adalah suatu unsur kimia
dalam tabel periodik
yang memiliki lambang Mg dan nomor atom
12. Magnesium (simbol Mg) adalah sebuah logam
alkali tanah dengan bilangan oksidasi
+2. Mg merupakan unsur
paling melimpah kedelapan dalam kerak bumi[2]
dan kesembilan dalam alam semesta.[3][4]
Magnesium adalah unsur paling umum keempat di muka Bumi (setelah besi, oksigen
dan silikon),
menyusun 13% dari massa planet dan fraksi besar mantel planet. Kelimpahan
relatif magnesium berhubungan dengan kenyataan bahwa ia mudah terbentuk dalam
bintang supernova
dari penambahan sekuensial tiga inti helium
kepada karbon
(yang pada gilirannya terbuat dari tiga inti helium). Oleh karena ion magnesium
memiliki kelarutan
yang tinggi dalam air, ia merupakan unsur paling melimpah ketiga yang terlarut
dalam air laut.[5]
Unsur bebasnya (logam) tidak ditemukan secara
alami di bumi, karena sifatnya yang sangat reaktif (meskipun dapat diproduksi,
ia segera terlapisi oleh lapisan tipis oksidanya [lihat pasivasi],
yang melindungi sebagian reaktivitasnya). Logam bebasnya terbakar dengan
karakteristik cahaya putih cemerlang, membuatnya berguna sebagai bahan pengisi
suar. Logam ini sekarang diperoleh melalui elektrolisis
garam magnesium yang didapat dari air garam.
Secara komersial, penggunaan utama logam ini sebagai campuran
untuk membuat logam paduan aluminium-magnesium,
kadang-kadang disebut "magnalium"
atau "magnelium". Karena massa jenis magnesium lebih kecil daripada
aluminium, aloy ini dihargai sesuai dengan bobot dan kekuatan relatifnya.
3.
Aluminium
Aluminium
adalah suatu unsur kimia
dalam tabel periodik
yang memiliki lambang Al dan nomor atom
13. Aluminium adalah logam putih keperakan anggota dari golongan
boron dan merupakan logam
pasca transisi. Ia tidak larut dalam air
dalam kondisi normal. Aluminium adalah unsur ketiga paling melimpah
(setelah oksigen
dan silikon),
dan logam
paling melimpah dalam kerakbumi. Aluminium menyusun
sekitar 8% dari berat permukaan padat bumi. Logam aluminium terlalu reaktif
secara kimia untuk berada dalam kondisi alaminya. Sebaliknya, ia dijumpai
tergabung dalam lebih dari 270 mineral
yang berbeda.[6]Bijih utama aluminium adalah bauksit.
Aluminium
adalah logam yang mengagumkan karena massa jenisnya
yang rendah dan kemampuannya menahan korosi
karena fenomena pasivasi.
Komponen yang terbuat dari aluminium dan aloynya
merupakan struktur vital untuk industri pesawat terbang
dan penting untuk bahan struktur dalam bidang transportasi
lainnya. Senyawa-senyawa aluminium yang paling bermanfaat, setidaknya
berdasarkan beratnya, adalah senyawa oksida dan sulfat aluminium.
4.
Silikon
Silikon
adalah suatu unsur kimia
dalam tabel periodik
yang memiliki lambang Si dan nomor atom
14. Silikon adalah sebuah metaloidtetravalen.
Ia kurang reaktif dibandingkan analognya, karbon, nonlogam
yang terletak tepat di atasnya dalam tabel periodik,
tetapi lebih reaktif daripada germanium,
metaloid yang berada tepat di bawahnya dalam tabel periodik. Kontroversi
berkenaan dengan karakter silikon dimulai sejak ditemukannya: silikon pertama
kali dibuat dan dianalisis karakternya dalam bentuk murni pada tahun 1824, dan
diberi nama silisium (dari bahasa Latin: silicis, batu api), ditambah
akhiran -ium untuk menunjukkan sebuah logam. Namun, nama finalnya, yang
diajukan pada tahun 1831 merefleksikan sifat fisik yang sama dengan unsur karbon
dan boron.
Silikon
adalah unsur
umum dalam alam semesta berdasarkan massa, tetapi
sangat jarang terdapat dalam bentuk unsur murni bebas di alam. Ia kebanyakan
terdistribusi dalam debu, pasir, planetoid,
dan planet
sebagai beragam bentuk silikon dioksida
(silika) atau silikat.
Lebih dari 90% kerak bumi tersusun dari mineral silikat,
menjadikan silikon unsur kedua paling melimpah
dalam kerak bumi (sekitar 28% dari massa) setelah oksigen.[7]
Sebagian
besar silikon digunakan secara komersial tanpa pemisahan, dan tentu saja sering
hanya dengan sedikit pemrosesan senyawa alami. Ini termasuk penggunaan tanah liat, pasir
silika, dan batu
langsung oleh industri. Silika digunakan untuk bata keramik. Silikat digunakan
dalam semen Portland
untuk lumpang
dan plesteran (stucco),
dan dikombinasikan dengan pasir silika dan kerikil,
untuk membuat beton. Silikat juga digunakan
dalam keramik
putih seperti porselin,
dan dalam gelas kuarsa
tradisional. Senyawa silikon yang lebih modern seperti silikon karbida
membentuk keramik kasar dan berkekuatan tinggi. Silikon merupakan dasar dari
polimer sintetis berbasis silikon yang sangat terkenal: silicone.
Silikon
elementer juga memiliki dampak besar dalam ekonomi dunian modern. Meskipun
sebagian besar silikon bebas digunakan dalam pengilangan baja, pengecoran
aluminium, dan industri kimia halus (seringkali untuk pembuatan silika berasap),
silikon dengan kemurnian sangat tinggi yang digunakan dalam semikonduktor
elektronik (<10%), meski porsinya relatif kecil tetapi mungkin lebih
kritikal. Oleh karena penggunaan silikon dalam sirkuit
terintegrasi, pondasi dari komputer,
tidak mengherankan teknologi modern bergantung kepadanya.
5.
Fosforus
Fosforus
adalah suatu unsur kimia
dalam tabel periodik
yang memiliki lambang P dan nomor atom
15. Fosforus adalah sebuah nonlogam multivalen
dari golongan nitrogen.
Sebagai mineral, fosforus hampir selalu hadir dalam tingkat oksidasi
maksimalnya, sebagai batuan fosfat
anorganik. Fosforus elementer terdapat dalam dua bentuk utama—fosforus putih
dan fosforus merah—tetapi
karena kereaktivannya yang tinggi, fosforus tidak pernah dijumpai sebagai unsur
bebas di bumi.
Bentuk
fosforus elementer pertama yang diproduksi (fosforus putih, tahun 1669)
memancarkan cahaya lemah saat terpapar oksigen —
sehingga namanya diberikan dari mitologi Yunani, Φωσφόρος yang berarti "pembawa
cahaya" (Latin Lucifer),
merujuk kepada "Bintang Pagi",
planet Venus.
Meskipun istilah "fosforesensi",
yang berarti bercahaya setelah iluminasi (disinari), diturunkan dari sifat
fosforus ini, pendaran fosforus dihasilkan dari oksidasi fosforus putih (tidak
terjadi pada fosforus merah) dan seharusnya disebut kemiluminesensi.
Fosforus juga merupakan unsur paling ringan yang mudah membentuk zat stabil
perkecualian dari kaidah oktet.
Sebagian
besar senyawa fosforus digunakan sebagai pupuk. Aplikasi lain meliputi peran
senyawa organofosforus dalam deterjen, pestisida
dan zat saraf,
serta korek
api.[8]
6.
Belerang
Belerang
adalah suatu unsur kimia
dalam tabel periodik
yang memiliki lambang S dan nomor atom
16. Belerang adalah nonlogammultivalen
dan melimpah.
Pada kondisi
normal, atom belerang membentuk molekul oktatomik
siklis dengan rumus kimia S8. Belerang elementer berupa kristal
padat berwarna kuning terang pada temperatur kamar. Secara kimia, belerang
dapat bereaksi baik dengan oksidator
maupun reduktor.
Ia mengoksidasi hampir sebagian besar logam dan beberapa nonlogam,
termasuk karbon,
yang membuatnya bermuatan negatif dalam hampir semua senyawa organosulfur, tetapi
mereduksi beberapa oksidator kuat, seperti oksigen
dan fluor.
Di alam,
belerang dapat dijumpai sebagai unsur murni serta sebagai mineral sulfida
dan sulfat. Kristal
belerang elementer sangat dikejar oleh kolektor mineral karena bentuk polihedronnya
disertai kecerahan warnanya. Melimpah dalam bentuk alaminya, belerang telah
dikenal sejak zaman purba, penggunaannya disebut dalam Yunani, Tiongkok
dan Mesir kuno.
Asap belerang digunakan sebagai fumigan, dan campuran obat mengandung belerang
digunakan sebagai balsem dan antiparasit.
Belerang
disebut dalam Alkitab
dengan sebutan brimstone dalam bahasa Inggris,
yang merupakan nama yang masih digunakan dalam istilah awam.[9]
Belerang ditengarai cukup penting sehingga memperoleh simbol alkimia
tersendiri. Belerang diperlukan untuk pembuatan serbuk mesiu hitam
berkualitas prima, dan serbuk kuning cerah yang diramalkan oleh para alkimiawan
mengandung beberapa sifat emas, yang mana mereka begitu bernafsu mensintesis
emas darinya. Pada tahun 1777, Antoine Lavoisier
membantu meyakinkan komunitas ilmiah bahwa belerang adalah unsur dasar, dan
bukan suatu senyawa.
Belerang
elementer pertama kali diekstraksi dari kubah garam
yang kadang-kadang terdapat dalam bentuk hampir murni, tetapi metode ini telah
usang sejak akhir abad ke-20. Sekarang, hampir semua belerang elementer
diproduksi sebagai produk sampingan hasil pemisahan kontaminan yang mengandung
belerang dari gas alam
dan minyak bumi.
Penggunaan unsur belerang terutama dalam pupuk, karena kebutuhan tanaman
akan unsur ini relatif tinggi, dan dalam pabrikasi asam sulfat,
suatu industri kimia utama. Penggunaan lain yang cukup terkenal adalah korekapi,
insektisida,
dan fungisida.
Banyak senyawa belerang berbau menyengat seperti bau gas alam, aroma sigung,
jeruk bali, dan bawang karena kandungan senyawa belerang. Hidrogen
sulfida yang dihasilkan oleh organisme hidup memberi
bau karakteristik pada telur busuk dan proses biologi lainnya.
7.
Klor
Klor
adalah suatu unsur kimia
dalam tabel periodik
yang memiliki lambang Cl dan nomor atom
17. Ia merupakan halogen
paling ringan kedua, yang dijumpai dalam tabel periodik
dalam golongan 17.
Unsur ini membentuk molekul diatomik pada kondisi standar,
yang disebut diklorin. Ia mempunyai afinitas elektron
tertinggi dan elektronegativitas
ketiga tertinggi di antara seluruh unsur. Berdasarkan alasan ini, klor adalah oksidator
kuat.
Senyawa
klor yang paling umum adalah natrium klorida,
yang telah dikenal sejak zaman purba; namun baru pada tahun 1630 gas klor
diperoleh oleh kimiawan sekaligus fisikawan Belgia Jan Baptist van Helmont.
Sintesis dan penentuan sifat klor elementer dilakukan pada tahun 1774 oleh
kimiawan Swedia Carl
Wilhelm Scheele, yang menyebutnya "dephlogisticated
muriatic acid air". Ia mengira telah mensintesis oksida yang diperoleh
dari asam klorida,
karena saat itu asam diduga selalu mengandung oksigen. Sejumlah kimiawan,
termasuk Claude Berthollet,
menyarankan bahwa dephlogisticated muriatic acid air versi Scheele
seharusnya merupakan kombinasi dari oksigen dengan suatu unsur yang belum
diketahui, dan Scheele memberi nama unsur baru dalam oksida ini sebagai muriaticum.
Masukan bahwa gas yang baru diketemukan ini adalah sebuah unsur sederhana
diajukan oleh Joseph
Louis Gay-Lussac dan Louis-Jacques
pada tahun 1809. Hal ini kemudian dikonfirmasi oleh Sir Humphry Davy
pada tahun 1810, dengan menamakannya klor, dari bahasa Yunani: χλωρος (chlōros),
yang berarti "hijau-kuning".
Klor
adalah komponen dari beragam senyawa, termasuk garam dapur.
Ia merupakan halogen paling melimpah kedua dan unsur kimia paling
melimpah ke-21 dalam kerak bumi.
Potensial oksidasi klor yang besar membuatnya digunakan sebagai pemutih
dan disinfektan,
selain digunakan sebagai pereaksi penting dalam industri kimia. Sebagai
disinfektan, senyawa klorin umum digunakan dalam kolam renang
untuk menjaga kebersihan dan sanitasi kolam renang.
Pada atmosfer atas,
molekul yang mengandung klor seperti klorofluorokarbon
memberi dampak pada penipisan
lapisan ozon.
8.
Argon
Argon
adalah suatu unsur kimia
dalam tabel periodik
yang memiliki lambang Ar dan nomor atom
18. Ia merupakan unsur ketiga dalam golongan 18 tabel periodik (gas mulia).
Argon adalah adalah gas paling umum ketiga dalam atmosfer bumi,
dengan kadar 0,93%, menjadikannya lebih melimpah daripada karbon
dioksida. Hampir semua argon adalah radiogenik. Argon-40
dihasilkan dari peluruhan kalium-40
dalam kerak bumi. Di jagat raya, argon-36
sejauh ini merupakan isotop argon yang paling banyak, menjadikannya isotop
argon yang paling banyak diproduksi melalui nukleosintesis
stelar dalam supernova.
Nama
"argon" diturunkan dari bahasa Yunani: ''αργον''
yang berarti "malas" atau "sesuatu yang tidak aktif",
merujuk pada kenyataan bahwa unsur ini hampir tidak pernah mengalami reaksi
kimia. Oktet
lengkap (delapan elektron) pada kulit atom terluarnya membuat argon stabil dan
resisten terhadap ikatan dengan unsur lain. Temperatur titik tripelnya
adalah 83,8058 K
yang merupakan titik pasti sebagai definisi dalam Skala Temperatur Internasional 1990 (International Temperature Scale of 1990)
Argon
diproduksi secara industri melalui distilasi fraksiudara cair.
Argon banyak digunakan sebagai gas penopeng inert dalam pengelasan dan proses
industri bertemperatur tinggi lainnya ketika bahan-bahan yang tak reaktif
menjadi reaktif; misalnya, atmosfer argon digunakan dalam tanur listrik grafit
untuk mencegah terbakarnya grafit. Gas argon juga digunakan dalam lampu pijar
dan lampu pendar, dan beberapa jenis tabung pelepasan lainnya. Argon membuat laser gas biru-hijau
menjadi istimewa.
B.
Tren
Periodik
C.
Sifat-sifat Unsur
Periode Ketiga
1.
Sifat Fisik Unsur
Periode Ketiga
Data sifat periodic unsur-unsur periode ketiga
Sifat Senyawa
|
Na
|
Mg
|
Al
|
Si
|
P
|
S
|
Cl
|
Ar
|
Nomor atom
|
11
|
12
|
13
|
14
|
15
|
16
|
17
|
18
|
Elektron valensi
|
35
|
352
|
3523p1
|
352p32
|
3523p3
|
3523p4
|
3523p5
|
3523p6
|
Jari-jari atom
|
1,86
|
1,60
|
1,43
|
1,17
|
1,10
|
1,04
|
0,99
|
0,97
|
Energi ionisasi(Kj/ma)
|
495,8
|
737,7
|
577,6
|
786,4
|
1011,7
|
999,6
|
1251,1
|
1520,4
|
Keelektronegatifan
|
0,93
|
1,31
|
1,61
|
1,90
|
2,19
|
2,58
|
3,16
|
-
|
Titik leleh (0C)
|
97,81
|
648,8
|
660,37
|
1,410
|
44,1
|
119,0
|
-100,98
|
-189,2
|
Titik didih
|
903,8
|
1,105
|
2467
|
2,355
|
280
|
44,67
|
-34,6
|
-185,7
|
Keterangan :
1.
Jari – jari semakin
kecil
2.
Energi ionisasi semakin
besar namun tidak teratur Hal ini disebabkan karena bertambahnya muatan inti,
sehingga daya tarik inti terhadap elektron terluar makin besar.
3.
Keelektronegatifannya
semakin besar
4.
Titik didihnya semakin
tinggi sampai Si, kemudian turun lagi.
·
Natrium magnesium dan
alumunium mempunyai ikatan logam. Seiring dengan bertambahnya jumlah elektro
valensi, kekuatan ikatan logan meningkatdari natrium hingga alumunium. Oleh
karena itu titik didih dan titik cair meningkat.
·
Silikon mempunyai
kovalen struktur raksasa (seperti intan), setiap atom silikon terikat secara
kovalen pada empat atom silikon. Zat dengan struktur kovalen raksasa mempunyai
titik leleh serta titik didih yang sangat tinggi.
·
Fosforus, belerang,
klorin, dan argon terdiri dari molekul-molekul non polar, sehingga hanya di
kukuhkan oleh gaya van der waals yang relatif lemah oleh karena itu, titik
leleh serta titik didihnya relatif rendah.
5.
Reduktornya
(pereduksinya) semakin lemah
Oksidatornya
(pengoksidasinya) semakin kuat.
Na"reduktor kuat :
·
Sanggat reaktifterhadap
air
·
Eo besar dan
negatif, dan
·
Energi ionisasi kecil
6.
Na, Mg, dan Al sebagai
konduktor.
Si, P, S, dan Cl sebagai
isolator.
7.
keasaman semakin kuat.
HClO4 > H2SO4 > H3PO4>
H2SiO3
8.
sifat basanya semakin
lemah
NaOH > Mg(OH)2>Al(OH)3
Berdasarkan tabel tersebut, kita
dapat mengetahui bahwa dari kiri ke kanan, jumlah elektron valensi semakin
banyak, sedangkan jumlah kulitnya tetap. Akibatnya, jari-jari atom semakin
kecil sehingga semakin sukar melepaskan elektron (ionisasinya semakin besar).
Harga keelektronegatifan unsur periode ketiga dari kiri ke kanan semakin besar
dan sebaliknya, harga keelektropositifan semakin kecil. Unsur Na, Mg, Al, Si,
P, S berwujud padat pada suhu kamar karena unsur-unsur tersebut memiliki harga
(t.l) dan (t.d) di atas suhu ruangan (di atas 250C).
Sedangkan unsur Cl dan Ar berwujud gas karena memiliki (t.l) dan (t.d)
di bawah suhu ruangan. Dalam periode ketiga, letak logam disebelah kiri, makin
ke kiri sifat logam semakin reaktif, Na >Mg> Al. Jadi Na paling reaktif.
2.
Sifat Kimia Unsur
Periode Ketiga
Unsur – unsur periode ketiga
memiliki keteraturan sifat secara berurutan dari kiri kekanan sebagai berikut :
a.
Sifat Pereduksi dan
Sifat Pengoksidasi
Sifat pereduksi
semakin bertambah, sedangkan sifat pengoksidasi unsur - unsur periode ke tiga
ini dapat anda lihat dari harga potensial reduksinya.
Table potensial reduksi standart unsur-unsur periode
ketiga.
Sifat Senyawa
|
Na
|
Mg
|
Al
|
Si
|
P
|
S
|
Cl
|
Ar
|
-2,711
|
-2,375
|
-1,706
|
-0,13
|
-0,276
|
-0,508
|
+1,358
|
-
|
Dari kiri ke kanan unsur periode
ketiga memiliki harga potensial reduksi 5 standart yang semakin positif
sehingga sifat pereduksinya semakin berkurang dan sifat pengoksidasinya semakin
bertambah.
Natrium merupakan pereduksi yang
reaktif terhadap air. Sifat pereduksi magnesium lebih lemah dibandingkan
natrium. Sehingga logam Mg hanya dapat bereaksi dengan air panas.
Contoh :
2Na (5) + 2HO (l)
2Na OH (ag) + H2 (g)
Sedangkan silicon memiliki sifat
pereduksi
lebih lemah dibandingkan aluminium sehingga
silicon yang bereaksi dengan oksidator kuat, seperti oksigen dan klorin.
Contoh :
Si (5) + O2 (g)
→Si O2(5)
b.
Sifat Logam dan Nonlogam
Unsur-unsur periode ketiga, seperti
Na, Mg, dan Al merupakan unsur logam, sedangkan unsur-unsur P, S, dan Cl
merupakan unsur nonlogam. Adapun Si merupakan unsur yang memiliki sifat
peralihan antara unsur logam dan nonlogam sehingga disebut unsur metalloid
(semi logam). Argon (Ar) termasuk golongan gas mulia yang bersifat insert
(sulit bereaksi) sehingga tidak dibahas lebih lanjut dalam bab ini.
c.
Sifat Asam-Basa
Sifat
asam berkaitan dengan sifat non logam,sedangkan sifat basa berkaitan dengan
logam. Sifat basa atau sifat asam dari suatu unsur bergantung pada konfigurasi
electron dan harga ionisasi unsur - unsur tersebut.
·
Sifat Basa
Dari kiri ke kanan, unsur - unsur
periode ketiga memiliki harga ionisasi yang semakin besar sehingga semakin
sukar melepas electron. Penyebabnya electron Dari unsur tersebut akan kurang
tertarik kea rah atau oksigen sehingga kecenderungan untuk membentuk ion OH
menjadi berkurang.
Contoh : M – OH→ M+ + OH-
Jadi, dari kiri kekanan sifat basa
usnur periode ketiga semakin lemah.
·
Sifat Asam
Energi
ionisasi unsur periode ketiga dari kiri ke kanan semakin besar sehingga semakin
mudah menarik electron dari atom oksigen. Jadi dari kiri ke kana sifat asam
unsur periode ketiga semakin kuat.
Contoh
: M – OH →MO- + H+
Senyawa
asam unsur periode ketiga, yaitu : asam siukat (H2SiO3)
asam fosfat (H3DO4) asam sinfat (H2SO4)
dan asam paklorat (HCO4). Senyawa H2SiO3 merupakan
asam sangat lemah sehingga mudah terurai menjadi senyawa SiO2 dan H2O.
D.
Pengujian Unsur – Unsur
Periode Ketiga
1.
Reaksi dengan Air
a.
Natrium
Natrium
mengalami reaksi yang sangat eksoterm dengan air dingin menghasilkan hidrogen
dan larutan NaOH yang tak berwarna.
b.
Magnesium
Magnesium
mengalami reaksi yang sangat lambat dengan air dingin, tetapi terbakar dalam
uap air. Lempeng magnesium yang sangat bersih dimasukkan ke dalam air dingin
akhirnya akan tertutup oleh gelembung gas hidrogen yang akan mengapungkan
lempeng magnesium ke permukaan. Magnesium hidroksida akan terbentuk sebagai
lapisan pada lempengan magnesium dan ini cenderung akan menghentikan reaksi.
Magnesium terbakar dalam uap air dengan nyala putih yang khas membentuk
magnesium oksida dan hidrogen.
c.
Aluminium
Serbuk
alumunium dipanaskan dalam uap air menghasilkan hidrogen dan alumunium oksida.
Reaksinya berlangsung relatif lambat karena adanya lapisan alumunium oksida
pada logamnya, membentuk oksida yang lebih banyak selama reaksi.
d.
Silicon
Terdapat
beberapa perbedaan dalam beberapa buku atau web mengenai bagaimana reaksi
silikon dengan air atau uap air. Sebenarnya hal ini tergantung pada silikon yang
digunakan. Umumnya silikon abu-abu yang berkilat dengan keadaan agak seperti
logam hampir tidak reaktif. Banyak
sumber menyatakan bahwa bentuk silikon ini bereaksi dengan uap air pada suhu
tinggi menghasilkan silikon dioksida dan hidrogen. Tapi juga mungkin untuk membuatnya menjadi bentuk silikon
yang lebih reaktif yang akan bereaksi dengan air dingin menghasilkan produk
yang sama.
e.
Fosfor dan sulfur
Fosfor dan sulfur tidak
bereaksi dengan air.
f.
Klor
Klor
dapat larut dalam air untuk beberapa tingkat membentuk larutan berwarna bijau.
Terjadi reaksi reversibel (dapat balik) menghasilkan asam klorida dan asam
hipoklorit.
2.
Reaksi dengan Oksigen
a.
Aluminium
Alumunium
akan terbakar dalam oksigen jika bentuknya serbuk, sebaliknya lapisan oksidanya
yang kuat pada alumunium cenderung menghambat reaksi.
Jika kita taburkan serbuk alumunium ke dalam nyala bunsen, maka akan kita dapatkan percikan. Alumunium oksida yang berwana putih akan terbentuk.
Jika kita taburkan serbuk alumunium ke dalam nyala bunsen, maka akan kita dapatkan percikan. Alumunium oksida yang berwana putih akan terbentuk.
b.
Silikon
Silikon
akan terbakar dalam oksigen jika dipanaskan cukup kuat. Dihasilkan silikon
dioksida.
c.
Fosfor
Fosfor
putih secara spontan menangkap api di udara, terbakar dengan nyala putih dan
menghasilkan asap putih campuran fosfor (III) oksida dan fosfor (V) oksida.
Proporsinya
bergantung pada jumlah oksigen yang tersedia. Dengan oksigen berlebih, produk
yang dihasilkan hampir semuanya berupa fosfor (V) oksida. Untuk fosfor (III) oksida: Untuk fosfor (V) oksida:
d.
Sulfur
Sulfur
terbakar di udara atau oksigen dengan pemanasan perlahan dengan nyala biru
pucat. Ini menghasilkan gas sulfur dioksida yang tak berwarna.
e.
Klor dan Argon
Walaupun memiliki
beberapa oksida, klor tidak langsung bereaksi dengan oksigen. Argon juga tidak
bereaksi dengan oksigen.
3.
Reaksi dengan Klor
a.
Natrium
Natrium terbakar dalam
klor dengan nyala jingga menyala. Padatan NaCl akan terbentuk.
b.
Magnesium
Magnesium terbakar
dengan nyala putih yang kuat menghasilkan magnesium klorida.
c.
Aluminium
Alumunium seringkali
bereaksi dengan klor dengan melewatkan klor kering di atas alumunium foil yang
dipanaskan sepanjang tabung. Alumunium terbakar dalam aliran klor menghasilkan
alumunium klorida yang kuning sangat pucat. Alumunium klorida ini dapat
menyublim (berubah dari padatan ke gas dan kembali lagi) dan terkumpul di
bagian bawah tabung saat didinginkan.
d.
Silikon.
Jika klor dilewatkan di
atas serbuk silikon yang dipanaskan di dalam tabung, akan bereaksi menghasilkan
silikon tetraklorida. Silikon tetraklorida adalah cairan yang tak berwarna yang
berasap dan dapat terkondensasi.
e.
Fosfor
f.
Fosfor putih terbakar di
dalam klor menghasilkan campuran dua klorida. Fosfor (III) klorida dan fosfor
(V) klorida (fosfor triklorida dan fosfor pentaklorida). Fosfor (III) klorida
adalah cairan tak berwarna yang berasap. Fosfor (V) klorida adalah padatan
putih (hampir kuning).
g.
Sulfur
Jika aliran klor
dilewatkan di atas sulfur yang dipanaskan, akan bereaksi menghasilkan cairan
berwarna jingga dengan bau tak sedap, disulfur diklorida, S2Cl2.
h.
Klor dan Argon
Tidak bermanfaat bila
kita membicarakan klor bereaksi dengan klor lagi dan argon tidak bereaksi
dengan klor.
E.
Proses Pembuatan Unsur
Periode 3
1.
Natrium
Dibuat
dengan cara elektrolisis leburan NaCl
NaCl(l)Na+
+ Cl–
Katode : Na+ + e– Na
Anode : 2Cl Cl2 + 2 e–
Katode : Na+ + e– Na
Anode : 2Cl Cl2 + 2 e–
Natrium
dibuat dari elektrolisis lelehan natrium klorida (NaCl) yang dicampur dengan
Kalsium Klorida
2.
Magnesium
Dibuat
dengan cara elektrolisis lelehan MgCl2.
Dalam
industri, magnesium dibuat dari air laut melalui tahap-tahap. Mula-mula air
laut dicampur dengan kapur (CaO) sehingga magnesium mengendap sebagai magnesium
hidroksida (Mg(OH)2).
CaO(s)
+ H2O(l) → 2Ca2+(aq) + 2OH-(aq)
Mg2+(aq)
+ 2OH-(aq) → Mg(OH)2(s)
Adapun
CaO dibuat dari batu kapur atau kulit kerang melalui pemanasan.
CaCO3(s)
→ CaO(s) +CO2(g)
Endapan
magnesium hidroksida yang terbentuk, disaring kemudian direaksikan dengan
larutan asam klorida pekat.
Mg(OH)2(s)
+ 2HCl(aq) → MgCl2(aq) + 2H2O(l)
Selanjutnya,
larutan diuapkan sehingga diperoleh kristal magnesium klorida (Mg Cl2).
Kristal itu kemudian dicairkan dan dielektrolisis.
MgCl2(l)
→ Mg2+(l) + 2Cl-(l)
Katode:
Mg2+(l) +2e → Mg(l)
Anode
: 2Cl-(l) → Cl2(g) + 2e
3.
Aluminium
Dibuat dengan elektrolisis dari bauksit yang murni.
·
Al2O3 murni dicampur dengan Na3AIF (kriolit)
untuk menurunkan titik leleh Al2O3 dan bertindak sebagai pelarut untuk pemurnian
Al2O3(Proses
Hall-Heroult)
·
Dalam proses elektrolisis dihasilkan aluminium
di katode dan di anode terbentuk gas O2 dan CO2
Al2O3(l) → 2Al3+(l) + 3O2-(l)
Katode : Al3+(l) + 3e → Al(l)
Anode : 2O2-(l) → O2(g) + 4 eC(s) + 2O2-(l) → CO2(g) + 4e
Al2O3(l) → 2Al3+(l) + 3O2-(l)
Katode : Al3+(l) + 3e → Al(l)
Anode : 2O2-(l) → O2(g) + 4 eC(s) + 2O2-(l) → CO2(g) + 4e
4.
Silikon
Silikon dibuat dari silika dengan
kokas sebagai reduktor. Campuran silika dan kokas dipanaskan dalam suatu tanur
listrik pada suhu sekitar 3.0000C.
SiO2(l)
+ C(s) → Si(l) + 2CO(g)
Silika (SiO2) merupakan
senyawa yang banyak terdapat dimana-mana. Kristal murni silika biasa disebut kuarsa.
Pasir, agata(akik), oniks, opal, ametis dan flint merupakan silika dengan bahan
pengotor dalam jumlah sedikit.
5.
Fosfor
Dikenal dalam 2 bentuk
alotropi, yaitu fosfor putih dan fosfor merah.
·
Fosfor putih diperoleh
dengan proses Wohler (memanaskan campuran Ca3(PO4)2,SiO2
dan kokas pada suhu 1300oC pada tanur listrik
2Ca3(PO4)2(s)+6SiO2(s)+10C(s)→6CaSiO3(s)+10CO(g)+P4(g)
·
Fosfor merah diperoleh
melalui pemanasan forfor putih
6.
BELERANG
Belerang diperoleh
melalui cara frasch. Belerang dicairkan dengan mengalirkan air yang
sangat panas melalui sebuah pipa. Air sangat panas merupakan campuran air dan
uapnya pada tekanan 16 atm dan temperatur 1600C. Beerang cair
dipaksa keluar dengan memompakan udara panas (20-25 atm).
Belerang juga dapat
diperoleh dari desulfurisasi minyak bumi, yang bertujuan untuk
mengurangi kadar belerang yang ada di dalam minyak bumi.
7.
KLOR
Dapat dibuat dengan
elektrolisis leburan NaCl atau elektrolisis larutan NaCl dengan menggunakan
diafragma.
8.
ARGON
Digunakan sebagai pengisi
bola lampu listrik dalam pengelasan dan pencegahan perkaratan
F.
Aplikasi dari Unsur Periode
Ketiga
Dalam Kehidupan Sehari-hari
1.
Natrium (Na)
Manfaat :
Dipakai dalam pebuatan ester
·
NaCl digunakan oleh
hampir semua makhluk
·
Na-benzoat dipakai dalam
pengawetan makanan
·
Na-glutamat dipakai
untuk penyedap makanan
·
Isi dari lampu kabut
dalam kendaraan bermotor
·
NaOH dipakai untuk
membuat sabun, deterjen, kertas
·
NaHCO3 dipakai
sebagai pengembang kue
·
Memurnikan logam K, Rb,
Cs
·
NaCO3 Pembuatan
kaca dan pemurnian air sadah

2.
Magnesium (Mg)
Manfaat :
·
Dipakai pada proses
produksi logam, kaca, dan semen
·
Untuk membuat konstruksi
pesawat. Logamnya disebut magnalum
·
Pemisah sulfur dari besi
dan baja
·
Dipakai pada lempeng
yang digunakan di industri percetakan
·
Untuk membuat lampu
kilat
·
Sebagai katalis reaksi organic

3.
Alumunium (Al)
Manfaat :
·
Banyak dipakai dalam
industri pesawat
·
Untuk membuat konstruksi
bangunan
·
Dipakai pada berbagai
macam aloi
·
Untuk membuat magnet
yang kuat
·
Tawas sebagai penjernih
air
·
Untuk membuat logam
hybrid yang dipakai pada pesawat luar angkasa
·
Membuat berbagai alat masak
·
Menghasilkan permata
bewarna-warni: Sapphire, Topaz, dll

4.
Silikon (Si)
Manfaat :
·
Dipaki dalam pembuatan
kaca
·
Terutama dipakai dalam
pembuatan semi konduktor
·
Digunakan untuk membuat
aloi be rsama alumunium,
magnesium, dan tembaga
·
Untuk membuat enamel
·
Untuk membuat IC

5.
Fosforus (P)
Manfaat :
·
Dipakai pada proses
produksi logam, kaca, dan semen
·
Untuk membuat konstruksi
pesawat. Logamnya disebut magnalum
·
Pemisah sulfur dari besi
dan baja
·
Dipakai pada lempeng
yang digunakan di industri percetakan
·
Untuk membuat lampu
kilat
·
Sebagai katalis reaksi
organik

6.
Sulfur (S)
Manfaat :
·
Dipakai sebagai bahan
dasar pembuatan asam sulfat
·
Digunakan dalam baterai
·
Dipakai pada fungisida
dan pembuatan pupuk
·
Digunakan pada korek dan
kembang api
·
Digunakan sebagai
pelarut dalam berbagai proses

7.
Klorin (Cl)
Manfaat :
·
Dipakai pada proses
pemurnian air
·
Cl2 dipakai
pada disinfectan
·
KCl digunakan sebagai
pupuk
·
ZnCl2 digunakan
sebagai solder
·
NH4Cl
digunakan sebagai pengisi batere
·
Digunakan untuk
menghilangkan tinta dalam proses daur ulang kertas
·
Dipakai untuk membunuh
bakteri pada air minum
·
Dipakai pada berbagai
macam industri

8.
Argon (Ar)
Manfaat :
·
Sebagai pengisi bola
lampu karena Argon tidak bereaksi dengan kawat lampu
·
Dipakai dalam industri
logam sebagai inert saat pemotongan dan proses lainnya
·
Untuk membuat lapisan pelindung
pada berbagai macam proses
·
Untuk mendeteksi sumber
air tanah
·
Dipakai dalam roda mobil
mewah:

BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Unsur periode ketiga
yang ada dialam yaitu Natrium (Na), Magnesium (Mg), Aluminium (Al), Silikon (Si),
Fosfor (P), Sulfur (S), Klorin (Cl) dan Argon (Ar) dan sifat unsur periode
ketiga diantaranya sifat atomik juga sifat fisis serta dapat di manfaatkan
dalam kehidupan sehari-hari.
B.
SARAN
Tidak
menggunakan bahan kimia secara berlebih pada pembuatan makanan. Demikian makalah yang kami buat Semoga makalah ini bisa
menambah pengetahuan bagi pembaca khususnya kita semua. kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh
dari sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran untuk
meningkatkan kualitas makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
SITUS WEB :
http://id.wikipedia.org/wiki/Natrium
http://id.wikipedia.org/wiki/Magnesium
http://id.wikipedia.org/wiki/Alumunium
http://id.wikipedia.org/wiki/Silikon
http://id.wikipedia.org/wiki/Sulfur
http://id.wikipedia.org/wiki/Fosfor
http://id.wikipedia.org/wiki/Klor
http://id.wikipedia.org/wiki/Argon
http://simuzz.wordpress.com/kimia/unsur-unsur-periode-ketiga/
BUKU :
Sutresna, Nana. 2010. Belajar Kimia Secara Menarik. Bandung : Grafindo
Sunardi. 2009. Kimia Bilingual. Bandung : Yrama Widya
Sofyatiningrum, etty, dkk. 2007 . Sains Kimia. Jakarta : Bumi Aksara
Purba, Michael. 2007. Kimia. Jakarta : Erlangga
Harjani, Tati dkk. 2012. Sains Kimia.
http://id.wikipedia.org/wiki/Natrium
http://id.wikipedia.org/wiki/Magnesium
http://id.wikipedia.org/wiki/Alumunium
http://id.wikipedia.org/wiki/Silikon
http://id.wikipedia.org/wiki/Sulfur
http://id.wikipedia.org/wiki/Fosfor
http://id.wikipedia.org/wiki/Klor
http://id.wikipedia.org/wiki/Argon
http://simuzz.wordpress.com/kimia/unsur-unsur-periode-ketiga/
BUKU :
Sutresna, Nana. 2010. Belajar Kimia Secara Menarik. Bandung : Grafindo
Sunardi. 2009. Kimia Bilingual. Bandung : Yrama Widya
Sofyatiningrum, etty, dkk. 2007 . Sains Kimia. Jakarta : Bumi Aksara
Purba, Michael. 2007. Kimia. Jakarta : Erlangga
Harjani, Tati dkk. 2012. Sains Kimia.















